Pengguna Vape Melonjak: Tren Baru yang Picu Kekhawatiran dan Desakan Regulasi Ketat
Inggris menjadi negara yang paling disorot. Mengapa? Inggris menjadi negara dengan pengguna vape terbanyak. Menurut statistik terbaru, pengguna vape di Inggris saat ini telah mengungguli perokok. Banyak yang menganggap ini adalah momen bersejarah, namun kurang disadari bahwa kebiasaan ini bukanlah sesuatu yang positif. Ini menjadi salah satu fenomena yang perlu perhatian.
Memasuki tahun 2024, 10% pengguna vape di Inggris berusia 16 tahun ke atas dan ini menjadi salah satu statistik yang cukup mengkhawatirkan. Perokok di Inggris saat ini hanya berjumlah 4,9 juta. Jika dibandingkan dengan satu dekade lalu, 2014 yang memiliki 18,8% perokok di Inggris, hanya terdapat 3,7% pengguna vape. Terjadinya pergeseran perilaku di merokok dan mengonsumsi nikotim secara besar-besaran di Inggris meresahkan banyak negara.
David Mais dari ONS bahkan menegaskan bahwa pengguna rokok elektrik pertama suatu saat adalah menggantikan perokok tradisional. Dia menuturkan bahwa tren ini merupakan pola penurunan merokok pada satu dekade terakhir. Artinya sebagian besar perokok yang beralih ke vape yang lebih "ringan" dan "aman". Namun tidak semua pakar berpendapat bahwa perpindahan ini tanpa risiko.
ONS juga menampilkan data penggunaan vape yang berbeda secara gender. Di tahun 2024, penggunaan rokok elektrik (vape) pada wanita mengalami peningkatan 8,5% menjadi 10%. Sebaliknya, pria mengalami penurunan 11% menjadi 10,1%. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan merokok dan vaping bahkan rokok elektrik (vape) sudah semakin merata dan tidak lagi di dominasi satu gender tertentu.
Ditinjau dari sisi usia, kelompok yang berusia 16 tahun sampai 24 tahun, pengguna terbesar adalah 13% meski angka tersebut mengalami penurunan dari 15,8% di tahun sebelumnya. Di sisi lain, yang mengejutkan, kelompok pengguna harian rokok elektrik (vape) mengalami lonjakan tertinggi pada kelompok 25-34 tahun dan 35-49 tahun yang seharusnya sudah pada usia produktif dan lebih sadar akan kesehatan.
ONS juga menyatakan bahwa 6,7% orang dewasa menggunakan vape setiap hari, meningkat dari 5,9% pada tahun 2023. Bahkan lebih mengkhawatirkan, 2,7% individu yang sebelumnya tidak pernah merokok kini telah mulai menggunakan vape. Ini berarti bahwa vape tidak hanya menggantikan rokok, tetapi juga menciptakan pengguna baru yang sama sekali tidak memiliki kebiasaan konsumsi nikotin sebelumnya.
Inilah sebabnya mengapa banyak ahli mulai angkat bicara. CEO Action on Smoking and Health, Hazel Cheeseman, menggambarkan temuan ini sebagai momen yang mewakili 'pergeseran besar konsumsi nikotin dari tembakau ke vape'. Bagi dia, vaping memang membantu mengurangi jumlah perokok, tetapi juga membuka risiko baru terutama bagi kaum muda dan perokok pasif.
Cheeseman percaya bahwa vape yang dulunya dianggap sebagai solusi, kini menimbulkan tantangan baru. Dia menekankan perlunya regulasi yang lebih ketat, terutama melalui RUU Tembakau dan Vape yang diusulkan. Bagi dia, kebijakan yang lebih serius diperlukan untuk memastikan produk vape tidak semakin mudah diakses oleh kaum muda, misalnya melalui rasa, iklan, dan larangan penjualan ritel.
Sebagian besar pernyataan mirip dengan pernyataan Deborah Arnott. Dia dari University College London. Dia mengkhawatirkan peningkatan pengguna vape dari kalangan non perokok, Ia mengkhawatirkan bahwa ini bukan sekedar fad, melainkan menegaskan bahwa vape saat ini dipandang sebagai produk gaya hidup dan bukan sebagai perangkat pemutusan rokok, asal tujuan dari produk vape tersebut.
Ia mendesak pemerintah untuk mengontrol regulasi vape dengan lebih ketat. Sebagian melihat ini dari sudut pandang lain. Simon Clark dari Forest, grup advokasi hak perokok, menegaskan bahwa perokok yang lebih berpendidikan dan peredaran produk vape atau kantong nikotin, berisiko lebih rendah, produk tersebut memicu pengurangan jumlah perokok. Menurut Clark, perokok yang ingin beralih ke produk yang lebih aman, tidak seharusnya terhalang dengan regulasi rigid.
Pendapat yang lebih moderat justru dari John Britton, epidemiologi dari Universitas Nottingham. Ia lebih menyoroti perokok yang beralih ke vaping. Menjamin dampak positif bagi penurunan rasio prevalensi merokok di masyarakat. Britton berpendapat bahwa dikoordinasikannya suatu program, mengedarkan vaping dalam jumlah lebih besar, berpotensi besar untuk menghindarkan masyarakat dari rokok. Untuk itu ia menekankan pengawasan agar produk ini tidak menjadi salah satu akses bagi para perokok pemula.
Dari laporan Statista Januari 2023, jumlah pelanggan bisnis vape telah meningkat secara dramatis, sehingga pemerintah dan pakar kesehatan semakin vokal untuk lebih banyak regulasi. Peningkatan permintaan telah meningkatkan respons regulasi dari pemerintah. Kemudian, pemerintah berharap bahwa vape tidak akan menjadi racun nikotin modern terutama bagi orang muda.
Misalnya, vape dengan rasa manis dari buah, permen karet, cokelat, mint... Rasa-rasa ini dapat dengan mudah membuat vape terlihat tidak berbahaya. Namun, orang harus memahami bahwa vaping memiliki risiko. Meskipun mungkin lebih disukai daripada rokok tradisional, risiko kesehatan dari vaping masih tetap signifikan dengan paparan jangka panjang berbagai bahan kimia nikotin.
Salah satu fakta adalah bahwa risiko kesehatan dan paparan berbagai bahan kimia diketahui dan diabaikan, serta lebih fokus pada menikmati rasa. Dengan semakin meningkatnya permintaan untuk vape dari pelanggan potensial yang masih terus berkembang, telah ada dan akan ada kebutuhan untuk lebih banyak regulasi dalam penjualan, pemasaran, dan konten produk vaping dibandingkan dengan produk lainnya.
Sudah menjadi jelas bahwa kita memerlukan pendekatan yang lebih hati-hati, regulasi yang lebih ketat, dan pendekatan yang lebih edukatif terhadapnya. Ini memerlukan kebijakan yang lebih informasi dan ketat, dan respons regulasi harus difokuskan pada produk yang menjadi potensi ancaman, bukan pada larangan total.
Telah menjadi jelas bahwa kita memerlukan pendekatan yang lebih hati-hati, regulasi yang lebih ketat, dan pendekatan yang lebih edukatif terhadapnya. Jelas bahwa fenomena ini bukan sekedar tren baru, tetapi merupakan perubahan serius dalam konsumsi nikotin modern.
Post a Comment for "Pengguna Vape Melonjak: Tren Baru yang Picu Kekhawatiran dan Desakan Regulasi Ketat"