Review Buku The Art of Loving Karya Erich Fromm: Memaknai Hakikat Cinta Sejati

Gagasannya dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana tetapi terasa seperti pukulan halus: cinta bukan sesuatu yang “kita temukan”, melainkan sesuatu yang “kita latih”. Cinta bukan bakat bawaan yang jatuh dari langit, tapi seni yang harus dipelajari dan dipraktikkan. Jujur saja, telinga kita tidak dibesarkan untuk menerima kenyataan seperti itu. Kita terbiasa percaya bahwa cinta datang tiba-tiba, mengalir alami. Lalu Fromm muncul dengan kalimat tegas bahwa perasaan kuat tidak menjamin hubungan bertahan; yang membuatnya kokoh adalah kedisiplinan, keputusan sadar, dan kemampuan benar-benar melihat manusia lain di luar kepentingan kita sendiri.
Ada satu bagian yang membuat saya menutup buku cukup lama. Fromm menulis bahwa manusia modern sering melihat cinta sebagai proses “memiliki seseorang”, bukan “menjadi seseorang yang layak dicintai”. Kalimat itu pelan, tapi efeknya tidak pelan sama sekali. Kita hidup di zaman ketika pertanyaan dalam hubungan lebih sering berbentuk “Aku dapat apa dari ini?” daripada “Apa yang bisa kuberikan supaya ini tumbuh?”. Saya rasa banyak orang pernah berada di hubungan yang terasa baik hanya selama kebutuhan pribadi terpenuhi—dan ketika rasa nyaman itu hilang, hubungannya ikut kehilangan nilai.
Fromm memang membahas bermacam-macam bentuk cinta—persaudaraan, ibu, erotis, cinta-diri, cinta kepada Tuhan—tapi struktur bukunya tidak seperti daftar definisi. Semua mengalir menuju satu ide besar: cinta sejati itu tindakan aktif. Mencintai berarti hadir, memperhatikan, memberi, memikul tanggung jawab. Dan “memberi” versi Fromm bukan tentang hadiah atau fisik, tetapi energi batin, perhatian yang benar-benar sampai, waktu psikologis. Dua orang bisa duduk bersebelahan, tapi tidak benar-benar “bersama”.
Kalimat itu membawa ingatan saya ke pemandangan sederhana: pasangan makan di restoran, tapi keduanya sibuk menatap ponsel. Tidak sedang marah, tapi juga tidak tersambung. Kita semua mungkin pernah mengalami momen ketika tubuh kita berada di samping orang yang kita sayangi, namun pikiran kita berjalan entah ke mana. Membaca bagian ini terasa seperti Fromm menyorotkan lampu ke diri kita dan bertanya: apakah kita benar-benar hadir ketika bersama orang yang kita cintai?
Fromm juga menunjukkan sisi lain yang tidak populer: cinta bukan obat untuk kesepian. Jika seseorang tidak berdamai dengan dirinya sendiri, ia akan menjadikan hubungan sebagai pelarian. Dan pelarian itu, cepat atau lambat, berubah menjadi genggaman yang terlampau erat sampai mematikan ruang untuk bernapas. Bagi Fromm, cinta bukan borgol. Cinta justru memungkinkan seseorang menjadi dirinya sepenuhnya tanpa hidup dalam ketakutan akan ditinggalkan. Di sinilah pembaca sering merasa tidak nyaman, karena banyak hubungan memang berdiri di atas rasa takut kehilangan, bukan rasa aman karena memberi ruang.
Salah satu bagian paling sering dikutip adalah mengenai cinta diri. Banyak dari kita menganggap mencintai diri berarti egois—karena dari kecil diajari bahwa memikirkan diri sendiri itu buruk. Fromm membalikkan itu. Kalau kita membenci diri sendiri, bagaimana mungkin kita memiliki energi emosional untuk mencintai orang lain? Cinta diri bukan tentang memanjakan diri berlebihan, melainkan memperlakukan diri sebagai manusia yang bernilai. Rasanya sederhana, tapi diam-diam mengenai daerah paling sensitif dalam kesadaran.
Yang membuat buku ini menarik justru karena ia tidak menawarkan daftar “cara mencintai dalam tujuh langkah”. Buku self-help biasanya memberi tips cepat. Fromm tidak. Ia mengajak pembaca berpikir dan menilai diri sendiri tanpa kenyamanan instruksi. Bagi pembaca yang ingin solusi langsung, ini mungkin terasa menguji kesabaran. Tapi apakah cinta memang perkara yang bisa dibereskan dengan metode instan?
Sebagian orang mungkin menilai Fromm terlalu teoretis, terlalu idealis untuk kehidupan nyata. Tapi saya tidak yakin kritik itu tepat. Rasanya teori Fromm tumbuh dari pengalaman manusia sehari-hari—hubungan yang hangat di awal lalu dingin pelan-pelan karena kedua belah pihak mulai memperlakukan pasangan sebagai penambal kekurangan emosional, bukan sebagai manusia yang setara. Saat tuntutan mengalahkan perhatian, hubungan pun mengendur. Dan Fromm seperti berbisik, “Jika kau mencintai seseorang hanya untuk mengisi kekosonganmu, hubungan itu tidak akan bertahan.”
Kekuatan buku ini mungkin terletak pada keberaniannya menyatakan bahwa cinta adalah tanggung jawab etis, bukan hanya luapan perasaan pribadi. Mencintai berarti ikut menjaga pertumbuhan hidup seseorang, dan itu berarti menerima sisi buruknya juga—bukan cuma bagian yang menyenangkan. Cinta bukan keadaan pasif; ini kerja sama jangka panjang.
Ada saat saya sedikit ragu—apakah memikirkan cinta terlalu rasional justru akan merampok keajaibannya? Namun ketika saya membaca ulang beberapa bagian, terasa bahwa Fromm justru menghormati cinta dengan menempatkannya sebagai sesuatu yang layak dipahami serius, bukan sekadar bergantung pada keberuntungan insting.
Tidak semua orang akan menyetujui teori Fromm. Ada yang mungkin menganggapnya terlalu sulit diterapkan, ada yang merasa gagasannya terlalu ideal untuk manusia nyata. Tapi mungkin itu inti dari The Art of Loving: buku ini tidak meminta kita mengangguk, melainkan mengajak kita merenung.
Dan setelah halaman terakhir tertutup, tidak ada jawaban mutlak tentang cara menjalani hubungan yang sempurna. Yang tertinggal hanya kesadaran bahwa mencintai itu perjalanan yang tidak pernah selesai. Kita belajar, gagal, mencoba lagi, berubah, lalu kembali mencoba. Cinta bukan hadiah yang datang sekali lalu bertahan selamanya—ia dirawat, dipelajari, diperjuangkan.
Kalau ada satu hal yang masih saya ingat setelah menutup buku ini, mungkin perasaan sederhana seperti ini: cinta bukan sekadar tentang mencari seseorang yang bersedia mencintai kita. Cinta juga tentang menjadi manusia yang ingin terus mencintai—dengan cara yang membuat dua orang tumbuh bersisian, bukan saling mengekang. Sesederhana itu. Dan serumit itu.
Post a Comment for "Review Buku The Art of Loving Karya Erich Fromm: Memaknai Hakikat Cinta Sejati"