Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Buku Berani Tidak Disukai — Cara Hidup Bebas dari Penilaian Orang Lain

Judulnya kelihatan sederhana: Berani Tidak Disukai. Tapi ketika membacanya, rasanya seperti ada tangan yang tiba-tiba menarik kita dan berbisik, “kamu ini sebenarnya hidup untuk siapa sih?” Bukan teguran keras… tapi tetap membuat kita kaget.

Kalau ditanya dari mana munculnya rasa takut mengecewakan orang, saya sendiri juga tidak punya jawaban pasti. Mungkin sejak kecil, waktu nilai ujian jadi standar apakah kita “anak baik” atau bukan. Lalu masa sekolah, ketika penilaian teman sosial menentukan rasa percaya diri kita. Tahu-tahu sudah dewasa, tapi sisa ketakutannya masih menempel: takut terlihat salah, takut jadi bahan omongan, takut bersuara beda. Lucu, karena kita sering merasa seluruh dunia memperhatikan—padahal kenyataannya tidak setajam itu.

Buku karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga ini menjelaskannya lewat format percakapan antara seorang filsuf dan pemuda yang keras kepala. Awalnya saya kira bakal berat dan melelahkan, rupanya rasanya lebih menyerupai obrolan terlalu larut malam ketika logika dan emosi saling bertabrakan. Ada debat, ada kesal, ada momen “ah nggak mau terima”, lalu tiba-tiba sadar, “iya juga ya…”

Salah satu gagasan yang bikin orang berhenti membaca dan mikir cukup lama: bahagia itu bukan hasil hadiah dari orang lain. Bukan dari pujian, bukan dari komentar baik, bukan dari tepuk tangan metaforis. Kebahagiaan muncul ketika kita hidup selaras dengan nilai hidup yang kita pilih sendiri. Bukan nilai yang dipaksakan lingkungan. Kedengarannya keren. Prakteknya? Berat.

Sebab untuk hidup seturut nilai diri sendiri, ada harga tertentu: akan ada yang tidak suka.

Bagian itu yang terasa menghantam. Karena kita tumbuh di lingkungan yang mengutamakan keramahan dan keharmonisan. Dan tidak ada yang salah dengan itu. Tapi perlahan, hal baik itu berubah menjadi kebiasaan mengorbankan diri. Pernah pura-pura setuju hanya supaya tetap dianggap “enak diajak bicara”? Atau pura-pura baik-baik saja karena tidak ingin merepotkan? Saya rasa hampir semua orang pernah melalui fase itu. Terus berusaha menyenangkan orang, tapi makin lama makin menjauh dari siapa kita sebenarnya.

Ada satu kalimat dari buku ini yang nyangkut cukup lama: hidup setiap orang adalah hidupnya; hidupmu bukan untuk memuaskan mereka. Tanpa konteks, kalimat itu bisa terdengar egois. Tapi maksud buku ini justru kebalikannya: melepaskan obsesi mengendalikan orang lain, sekaligus berhenti menyerahkan kontrol hidup kita ke tangan mereka. Hubungan malah jadi lebih sehat ketika tidak ada yang memegang kemudi hidup orang lain.

Dan saya sering melihat ini di kehidupan sekitar: banyak orang bekerja di bidang yang tidak mereka sukai hanya karena ingin tampil sukses. Ada yang menikah, membeli rumah, punya anak, bukan karena itu benar-benar keinginan mereka—melainkan supaya terlihat seperti manusia normal. Keberhasilan seperti itu dipajang di media sosial, tapi entah kenapa tetap ada kekosongan di baliknya. Mungkin karena panggung tidak pernah sepenuhnya sama dengan rumah.

Ada yang mungkin bertanya, “kalau kita nggak peduli pendapat orang, nanti kita jadi manusia tanpa empati dong?” Pertanyaan itu wajar sekali. Saya sendiri dulu sudah hampir menarik kesimpulan seperti itu. Tapi buku ini menawarkan konsep batas: kita hanya bertanggung jawab atas tindakan kita, bukan atas reaksi orang lain. Orang lain punya kebebasan untuk marah, kecewa, tidak suka—itu bagian dari hidup mereka. Kita tidak bisa mengatur itu.

Memang terasa membebaskan sekaligus menakutkan.

Karena akan ada konsekuensinya: beberapa orang menjauh. Ada pendapat yang berubah soal diri kita. Ada label baru yang mungkin tidak menyenangkan. Dan dari situ muncul pertanyaan lain: apakah kita kuat untuk tetap berjalan? Atau kembali memakai topeng yang sudah lama menempel karena terasa lebih aman?

Saya pernah mencoba menerapkannya sedikit saja, sangat kecil, bukan dalam skala hidup besar. Suatu hari saya menolak sebuah permintaan yang tidak sanggup saya tangani. Biasanya saya akan memaksakan diri karena tidak ingin terlihat seolah kurang bisa diandalkan. Kali itu saya jujur: saya tidak mampu. Responsnya bermacam-macam. Ada yang memahami, ada juga yang diam-diam kesal. Dan… saya tetap baik-baik saja. Dunia tidak runtuh. Malam itu saya bahkan tidur lebih nyenyak. Kadang rasa takut kita jauh lebih bising daripada kenyataan sebenarnya.

Semakin dalam membaca, semakin terasa bahwa keberanian untuk tidak disukai bukan tentang memberontak. Itu soal tidak lagi menghukum diri sendiri demi mendapatkan penerimaan. Ironisnya, saat itu terjadi, hubungan justru menjadi lebih jujur. Bukan hubungan yang penuh permainan kesan, bukan komunikasi terselubung untuk terlihat baik.

Akan ada orang yang pergi. Itu menyakitkan. Tapi orang yang bertahan setelah melihat versi kita apa adanya… justru terasa seperti rumah.

Kadang saya bertanya pelan pada diri sendiri: “selama ini saya ingin hidup untuk siapa sebenarnya?” Ada hari ketika saya menjawab dengan yakin. Ada hari ketika saya masih gugup dan ingin disukai semua orang. Saya tidak selalu berani, tidak selalu konsisten. Tapi pelan-pelan saya sadar bahwa rasa merdeka bukan muncul saat semua orang menyayangi kita—melainkan saat kita tetap berdiri walau tidak semua orang melakukannya.

Sampai sekarang, ada bagian buku ini yang sengaja saya baca ulang ketika rasa ingin menyenangkan semua orang kembali datang. Bukan supaya saya menjadi keras, tapi supaya saya ingat: hidup jauh lebih ringan ketika kita tidak memukul diri sendiri demi mendapatkan cinta yang sifatnya sementara.

Kadang kita tidak butuh pengakuan siapa pun untuk merasa cukup. Kadang yang kita perlukan hanya keberanian kecil untuk berkata, “biarlah… saya akan tetap menjadi diri saya, meskipun ada orang yang memilih tidak menyukai.”

Download Ebook Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi, Fumitake Koga

Post a Comment for "Review Buku Berani Tidak Disukai — Cara Hidup Bebas dari Penilaian Orang Lain"