Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Buku Bicara Itu Ada Seninya (Oh Su Hyang): Rahasia Komunikasi yang Efektif untuk Sukses

Ada masa ketika saya benar-benar percaya diri soal kemampuan berbicara. Rasanya sudah cukup lihai menyampaikan pendapat, mengatur intonasi, bahkan sesekali melawak agar suasana cair. Sampai suatu rapat terjadi: saya bicara, semua orang tersenyum sopan, lalu topik langsung pindah ke hal lain. Tidak ada yang membantah, tapi juga tidak ada yang menanggapi. Dan tiba-tiba saya merasa seperti sedang berbicara lewat kaca kedap suara. Saat itulah saya mulai mengerti—bicara bukan hanya soal mulut bergerak mengeluarkan kata. Ada proses halus yang menghubungkan dua pikiran. Dan entah sudah berapa lama saya bicara tanpa benar-benar memahami proses itu.

Buku Bicara Itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang muncul seperti teguran lembut tapi menyebalkan: kamu sudah menghabiskan hidup untuk berbicara, tapi apakah kamu sudah berkomunikasi? Pertanyaan yang terdengar ringan, tapi terasa mengiris ke dalam karena kita tahu jawabannya tidak selalu “ya”.

Gaya buku ini jauh dari teori komunikasi yang terasa formal dan kering. Oh Su Hyang justru mengurai interaksi sehari-hari — percakapan dalam hubungan, rapat kantor yang tegang, basa-basi canggung dengan kenalan lama, bahkan momen kikuk saat bertemu orang baru. Dari kumpulan situasi itulah ia menunjukkan sesuatu yang nyaris terlupakan: komunikasi bukan diukur dari seberapa banyak kata meluncur, tapi seberapa tepat kata itu mengenai sasaran.

Bagian yang paling sering membekas adalah soal membuat orang merasa didengar. Sangat sederhana, tetapi kok ya sering gagal dilakukan. Banyak dari kita mendengarkan hanya untuk menyusun balasan, bukan untuk memahami. Bahkan kadang kita terlihat memperhatikan, padahal di kepala sedang menyiapkan argumen, pembelaan, atau cerita tandingan. Tidak heran dua orang bisa mengobrol lama tapi sama-sama pulang dengan perasaan “aku tidak benar-benar didengar”.

Menurut Oh Su Hyang, ketika seseorang merasa dipahami, pagar dalam dirinya perlahan turun. Dan ketika pagar turun, barulah kata-kata kita punya tempat untuk mendarat. Ironisnya, kebanyakan orang berusaha jadi pihak yang pertama didengar—tanpa sadar itu justru membuat komunikasi buntu sebelum sempat berjalan.

Buku ini juga menyoroti peran nada suara, jeda, dan bahasa tubuh. Hal-hal yang sering kita lewatkan karena fokus pada kata-kata. Seseorang bisa mengatakan “aku baik-baik saja” dengan intonasi yang membuat kita tahu itu kebohongan kecil untuk bertahan hidup. Nada suara sering mengandung kebenaran yang tidak sempat disusun dalam kalimat. Mungkin itu alasan kenapa pesan teks, meski praktis, mudah memicu salah paham; tidak ada suara, tidak ada ekspresi, tidak ada konteks emosi.

Saya masih ingat percakapan dengan seorang teman yang keluarganya sedang bermasalah. Kalimatnya sederhana, tapi nadanya getir, seperti orang yang mencoba tersenyum ketika dunia runtuh pelan-pelan. Kalau saya hanya membaca kata-katanya tanpa mendengar suaranya, saya mungkin akan membalas dengan reaksi standar. Tapi karena saya mendengar emosinya, saya justru berhenti dan benar-benar memperhatikan. Dan dari situ saya sadar: percakapan bukan hanya pertukaran kata, tapi pertukaran perasaan.

Oh Su Hyang juga menunjukkan bagaimana komunikasi bisa menentukan perjalanan profesional seseorang. Banyak orang kompeten berjalan lambat bukan karena kemampuan mereka kurang, tapi karena ide-idenya tidak pernah diterima oleh orang yang tepat. Ada yang ingin menyampaikan gagasan, tetapi tersendat karena takut terlihat sok tahu. Ada yang ingin berkata “tidak”, tetapi akhirnya berkata “boleh” lalu memikul tugas tambahan yang tidak mereka inginkan.

Komunikasi efektif tidak selalu berarti berbicara lembut. Sesekali kita perlu lugas, bahkan tegas, tanpa berpura-pura manis. Ada kalimat yang harus keluar, meskipun ada risiko orang tidak menyukainya. Dan sering kali kalimat yang benar justru bukan yang terdengar paling menyenangkan.

Sebagian pembaca mungkin akan merasa buku ini membuka kelemahan diri mereka satu per satu. Saya pun merasakannya. Ada bab yang membuat saya berhenti membaca sebentar karena terasa seperti seseorang sedang mengamati cara saya berbicara selama bertahun-tahun. Kita sering mengira sedang membantu padahal sedang mendominasi pembicaraan. Kita memberi nasihat sebelum diminta, memotong cerita orang karena sudah merasa tahu ujungnya. Tanpa niat jahat—hanya karena terburu-buru ingin didengar.

Saya jadi ingat sesuatu yang mungkin dialami banyak orang: nongkrong lama dengan teman yang menyenangkan, tapi pulang dengan perasaan lelah entah kenapa. Setelah dipikir-pikir, mungkin bukan isi obrolannya yang berat, melainkan suasananya. Banyak orang berbicara, sedikit yang benar-benar saling terhubung.

Ada bagian buku yang menempel sampai akhir: manusia ingin dihormati sebelum diberi nasihat. Kalimat ini membuat saya mengulang-ulang cara saya menyampaikan pendapat: apakah saya benar-benar ingin membantu, atau diam-diam ingin merasa paling benar? Rasanya menohok karena begitu nyata—banyak konflik terjadi bukan karena tujuannya berbeda, melainkan karena masing-masing ingin diakui dulu.

Oh Su Hyang tidak menyajikan komunikasi sebagai kemampuan yang bisa dikuasai lalu selesai. Justru ia menegaskan bahwa setiap orang, bahkan yang ahli, bisa tergelincir ketika emosi naik. Jadi bukan soal menjadi mulus setiap saat, tetapi menjadi semakin sadar setiap kali kita berbicara.

Kita semua pasti pernah berada dalam momen ketika maksud kita baik tapi hasilnya berantakan. Kadang kita terlalu berhati-hati sampai pesan kehilangan makna. Kadang sebaliknya, kita terlalu cepat dan menyakiti orang tanpa sengaja. Dan tidak ada rumus ajaib untuk menghindari semua itu. Yang ada hanya kepekaan: saat salah, kita belajar; saat berhasil, kita menyimpan polanya.

Yang menarik, semakin lama membaca buku ini, semakin terasa bahwa komunikasi bukan tentang memenangkan pertarungan verbal, bukan tentang tampil paling cerdas, bukan juga alat untuk memengaruhi sebanyak mungkin orang. Komunikasi adalah tentang merawat hubungan. Tentang memilih kata yang membuat orang merasa aman untuk membuka diri. Tentang keberanian untuk jujur tanpa menghancurkan.

Kalau dipikir-pikir, bukankah sebagian besar orang hanya ingin dimengerti tanpa harus menjelaskan seluruh isi hidupnya?

Mungkin seni berbicara dimulai ketika kita berhenti menganggap kata-kata sebagai senjata atau pajangan intelektual, dan mulai menggunakannya sebagai jembatan. Jembatan yang bisa retak, terkikis, atau runtuh kapan saja… tetapi tetap kita bangun lagi karena, pada akhirnya, hanya lewat komunikasi kita bisa benar-benar merasa terhubung sebagai manusia.

Post a Comment for "Review Buku Bicara Itu Ada Seninya (Oh Su Hyang): Rahasia Komunikasi yang Efektif untuk Sukses"