Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Buku THE BOOK OF IKIGAI Ken Mogi: Cara Sederhana Make Life Worth Living

Kalau ada satu pertanyaan yang suka datang tanpa permisi saat kita lagi sendirian, biasanya saat lampu sudah dimatikan tapi pikiran belum ikut tidur… mungkin pertanyaannya begini: apa sih yang benar-benar bikin hidup ini terasa layak dijalani? Buku The Book of Ikigai karya Ken Mogi mengupas hal itu tanpa nada menggurui, tanpa gaya “aku tahu jawabannya, dengarkan aku”. Justru karena terasa pelan dan apa adanya, buku ini seperti suara kecil yang sebenarnya sudah lama ada dalam kepala kita.

Ikigai—banyak orang mengenalnya lewat diagram cantik tentang irisan passion, profession, mission, vocation. Gambarnya mulus, tapi hidup kita kan jarang mulus begitu. Ken Mogi meruntuhkan gambaran kaku itu dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih cair, bahkan terasa seperti obrolan yang tulus dengan sosok orang tua yang bijak tapi santai.

Menurutnya, ikigai bukan rumus. Lebih mirip rasa. Kadang kecil sekali, begitu kecil sampai kita sering melewatinya. Tapi rasa itu yang diam-diam mendorong kita bangun pagi dengan hati yang lumayan lega. Bisa sesederhana lelaki Jepang yang membuat roti setiap hari, atau nenek yang merawat bonsai sampai keriputnya ikut bercerita. Atau pekerja biasa yang bahagianya datang dari melihat pelanggan pulang dengan senyum. Tidak ada panggung besar, tidak ada tepuk tangan. Tapi hidup terasa penuh, cukup.

Saya agak tertegun ketika Mogi membahas lima pilar ikigai yang terkenal itu. Ia menyebut starting small, releasing yourself, harmony and sustainability, joy in little things, being in the here and now. Di tangan penulis lain mungkin terdengar seperti poster motivasi. Tapi dia menyampaikannya pelan—tanpa rasa ingin mengatur hidup orang—hingga kelima pilar itu berubah jadi cermin. Cermin yang memperlihatkan betapa sering kita melewatkan momen bermakna hanya karena sibuk menunggu pencapaian besar untuk merasa layak dihargai.

Manusia memang punya kecenderungan aneh: merasa hidup baru berarti setelah punya gelar, posisi, uang, gelar tambahan, sertifikat, upgrade, entah apa lagi. Lalu ketika semua itu tercapai, sering muncul rasa kosong baru yang tidak kalah mengganggu. Kejar lagi, dapet lagi, kosong lagi. Putaran yang menguras energi. Buku ini terasa seperti seseorang yang menepuk bahu kita dan bilang, kamu boleh hidup tanpa sensasi luar biasa setiap hari, itu tidak berarti kamu gagal.

Kalau kamu pernah mengejar sesuatu habis-habisan lalu setelah dapat malah merasa biasa saja, kamu mungkin paham arah pembicaraan ini. Justru hal-hal kecil yang kita anggap remeh sering jadi penyelamat hidup: obrolan spontan di teras rumah, senyum kecil dari orang terdekat, rutinitas sederhana yang bikin hati tenang. Kadang kita baru sadar berharganya setelah rutinitas itu hilang.

Ada satu ide Ken Mogi yang tertinggal lama di kepala saya: makna hidup lebih banyak datang dari pengulangan, bukan dari puncak. Apa pun yang kita lakukan dengan kesadaran penuh, lagi dan lagi, bisa jadi sumber makna. Tidak ada keharusan jadi spesial atau mengesankan di mata orang. Yang dituntut justru kemampuan untuk hadir utuh—tanpa membandingkan diri terus-menerus. Kalau dipikir, betapa sering kita menilai kebahagiaan dari standar orang lain? Saya bahkan sempat bertanya-tanya apakah selama ini saya benar-benar tahu apa yang saya mau, atau hanya mengejar apa yang terlihat keren.

Gaya bercerita Mogi pelan dan tidak mendesak. Cocok dibaca saat kepala penuh tanda tanya atau ketika hidup sedang terasa berat. Ada bagian budaya Jepang, ada pengalaman pribadi penulis, ada pengamatan sosial. Bukan teori rumit—lebih seperti seseorang yang sedang berbagi apa yang ia pelajari dari menjadi manusia.

Buku ini bukan petunjuk langkah demi langkah “cara menemukan ikigai dalam 7 hari”. Justru kebalikannya. Ia mengajak kita memperhatikan suara-suara kecil yang biasanya tenggelam oleh ambisi. Tidak semua orang siap duduk dengan dirinya sendiri dan bertanya, “apa yang sebenarnya membuatku ingin bangun besok?” Tapi buku ini menggiring kita ke arah sana tanpa memaksa.

Dan ya, saya mengerti kalau sebagian orang akan merasa ikigai terdengar terlalu idealis. Hidup tidak selalu lembut. Kadang terlalu keras untuk sekadar “menikmati hal kecil”. Tapi Mogi tidak menutup mata. Ia hanya menunjukkan bahwa di tengah tekanan dan tuntutan, kadang ada celah kecil yang cukup untuk bernafas. Itu bisa jadi jangkar agar kita tetap waras. Sebuah pengamatan yang membumi, bukan angan-angan kosong.

Ada hal menarik yang saya sadari saat membaca: semakin tua, semakin banyak orang merasa harus membuktikan sesuatu agar hidupnya dianggap berhasil. Padahal, kalau diperhatikan, orang yang benar-benar terlihat bahagia sering justru mereka yang punya ritual kecil dan tidak sibuk mengejar validasi. Saya tidak yakin apakah itu berlaku untuk semua orang, tapi saya melihat pola itu cukup sering.

Saya sempat berhenti membaca beberapa menit, bukan karena sedih, tapi karena tiba-tiba teringat hal-hal kecil yang ternyata selama ini diam-diam menjaga kewarasan saya. Rasa hangatnya datang pelan. Ada sisi diri yang sempat lupa bahwa hidup saya sebenarnya baik-baik saja, hanya fokus saya yang salah sasaran.

Dari sana muncul pertanyaan yang mungkin perlu kita biarkan terbuka begitu saja: siapa sih yang sebenarnya menentukan standar kehidupan yang layak dirayakan? Mengapa harus besar dulu baru dianggap pantas?

Buku ini tidak menawarkan jawaban pasti. Dan mungkin memang tidak perlu ada. Yang tersisa setelah halaman terakhir justru rasa damai. Seperti bisikan bahwa kita tidak harus berlari dulu untuk merasa hidup. Kadang, duduk saja dan memperhatikan apa yang sudah ada di sekitar pun bisa membuat hati menegang lalu rileks perlahan.

Ketika buku selesai, saya tidak terdorong untuk membuat resolusi atau target baru. Yang muncul hanya keinginan sederhana untuk hadir. Hidup apa adanya. Menikmati rutinitas yang dulu saya anggap membosankan. Dan anehnya, rasa “cukup” yang dulu begitu sulit diraih, tiba-tiba terasa mungkin.

Mungkin begitulah ikigai bekerja. Bukan tentang kemenangan besar, tapi tentang kesadaran kecil yang membuat kita berkata, aku senang berada di sini. Hanya itu—tapi terkadang, itu sudah lebih dari cukup.

Post a Comment for "Review Buku THE BOOK OF IKIGAI Ken Mogi: Cara Sederhana Make Life Worth Living"