Review Buku 'You Are a Badass' Karya Jen Sincero: Panduan Tepat Tingkatkan Kepercayaan Diri

Ada buku yang dilihat di rak toko itu membuat kepala saya hanya bisa digelengkan. Judul catchy itu sudah saya tebak arahnya: motivasi biasa. Lalu entah kenapa halaman buku itu dibuka oleh saya, beberapa paragraf pun dibaca, dan tiba-tiba sebuah momen hening muncul — seperti bagian paling rapuh dari pikiran sedang dikenai jarum. Kemampuan aneh itu diberikan oleh You Are a Badass karya Jen Sincero. Rasanya ceramah tidak sedang dibacakan kepada saya, melainkan saya sedang diajak nongkrong oleh seseorang yang jujur sekali sampai kadang menyebalkan. Bagian seperti nasihat sahabat yang blak-blakan itu disajikan, kadang tamparan bercampur lelucon diberikan agar kita tidak pergi.
Yang menarik, bukunya tidak dimulai oleh Sincero dari posisi seseorang yang sudah paham segalanya. Tentang masa-masanya penuh ragu, takut membuat kesalahan, dan stuck dalam kehidupan rata-rata padahal sebenarnya punya kemampuan jauh lebih besar, diceritakannya oleh dia. Pernah berada di wilayah itu mungkin kita — hidup terasa berjalan, tapi tidak benar-benar terasa “milik kita”. Bertahan saja dilakukan, bukan berkembang.
Dari situ, nyawa mulai diberikan oleh buku ini.
Bukan sekadar soal kepercayaan diri sedang dibicarakan, melainkan bagaimana rasa minder terbentuk sejak kecil sedang dikupas. Kita diajari untuk tidak terlalu mencolok, tidak terlalu berharap, tidak boleh terlihat ambisius, supaya kita tidak dianggap sok hebat. Pesan-pesan seperti itu akhirnya menempel pada kita. Menjadi orang yang ahli merendahkan diri sendiri bahkan sebelum ada orang yang mencoba menghakimi, kita tumbuh.
Yang membuat buku ini seru adalah nada bercandanya. Kalimat santai, jenaka, dan kadang sarkas digunakan olehnya, tapi sisi paling sensitif dihujam tiba-tiba. Kita dibuat membaca sambil tertawa, lalu diam lama terjadi dalam sekejap. Ritme seunik ini tidak bisa dimiliki oleh banyak buku pengembangan diri.
Satu gagasan sederhana tetapi menusuk disajikan: kemampuan membandingkan pencapaian dimiliki kita dengan sangat kompeten, namun proses justru sangat jarang dibandingkan oleh kita. Orang yang sudah sampai garis finish membuat iri kita, tapi untuk berlari duluan kita enggan. Jarak diambil sebelum benar-benar ikut bertanding. Kekalahan imajiner lebih mudah diterima manusia entah mengapa daripada menguji diri sendiri.
Ditekankan oleh Sincero bahwa rasa percaya diri tidak muncul karena seseorang sudah hebat — tapi karena keberanian untuk membiarkan dirinya berproses ke arah sana dimiliki olehnya. Dan selama pada rasa tidak layak, pada rasa takut gagal, atau pada “saya memang begini” kita tetap berpegangan, langkah yang benar-benar dibutuhkan tidak akan pernah kita tapaki.
Kalau direnungkan sebentar, kesempatan berapa sering dihancurkan oleh kita sebelum kesempatan itu datang?
Berapa banyak peluang yang dilewatkan begitu saja oleh kita karena suara kecil bernama “Kayaknya aku nggak pantas…”?
Pertanyaan seperti itu lebih memukul daripada ratusan kalimat motivasi.
Salah satu alasan buku ini terasa sangat manusiawi adalah pengakuan yang tidak romantis: perubahan tidak enak rasanya. Ketidakpastian dipenuhi olehnya. Kelelahan ditimbulkannya. Keluar dari zona nyaman seringkali terasa sangat fisik — mual, gelisah, ingin mundur, ingin kembali ke kehidupan lama yang jelas-jelas membuat unhappy tapi familiar. Rasa sakit yang sudah kita hafal bisa dirindukan anehnya hanya karena kesakitan yang asing ditakuti.
Saya tersendat cukup lama saat bab tentang keyakinan bawah sadar yang membatasi dibaca oleh saya. Bukan karena bahasanya rumit, justru karena terlalu dekat. Kita ternyata tidak sering gagal karena kurang kemampuan. Hidup dijalani oleh kita berdasarkan label lama yang sudah lewat masa berlakunya sehingga kegagalan muncul: “Aku bukan orang sukses”, “Aku tidak cukup pintar”, “Aku tidak menarik”, “Aku bukan orang yang bisa dicintai”. Opini lama diperlakukan kita seolah fakta ilmiah.
Di sinilah garis besar ditarik oleh Sincero: kalau kepercayaan diri ingin dimiliki, bertindak sebagai orang yang punya nilai harus dilakukan — bahkan sebelum dunia mengakuinya. Keberhasilan ingin dicapai banyak orang, tapi penghindaran risiko diobsesikan oleh mereka. Semua orang ingin berubah, namun alasan untuk tidak berubah selalu terdengar lebih meyakinkan.
Pernah ada situasi kumpul bersama teman dan keluhan mirip diucapkan semua: ingin pindah kerja, ingin memulai usaha, ingin sekolah lagi, ingin hidup lebih sehat, tapi “momen pas” sedang menunggu mereka semua. Padahal momen pas itu seperti mitos. Tidak pernah memulai adalah cara paling elegan yang dihasilkan oleh menunggu sampai siap sepenuhnya.
Kebiasaan aneh manusia disoroti oleh buku ini: hidup kecewa kadang lebih nyaman dijalani daripada hidup berkembang. Karena berkembang berarti menjadi versi diri yang baru, yang belum kita kenal, dan hal itu menakutkan.
Kekuatan You Are a Badass terletak pada kemampuannya mengubah konsep psikologis menjadi langkah konkret. Batasan ditetapkan dengan berani. Lingkungan yang merendahkan dihentikan untuk ditempati. Mimpi yang lama hanya jadi “niat suatu hari nanti” diwujudkan. Nada suara yang menggurui tidak digunakan Sincero, tapi suara seperti teman yang bilang, “Coba dulu saja. Kalau gagal ya nggak apa-apa. Yang penting jangan menyerah sebelum kamu mulai,” disampaikan olehnya.
Ada bagian tentang penghargaan diri yang dibaca ulang berkali-kali oleh saya. Penghargaan dari orang lain ingin dimiliki banyak orang, tapi diri sendiri tidak mampu dihargai oleh mereka. Diperlakukan spesial ingin mereka rasakan, tapi diam-diam mereka yakin bahwa mereka tidak pantas mendapatkannya. Hidup naik kelas diinginkan, tapi energi justru dihabiskan mereka untuk hal-hal yang membuat diri mereka mengecil.
Dalam pengalaman sosial sehari-hari, banyak orang terlihat percaya diri di permukaan telah saya lihat, padahal hidup mereka sebenarnya dikendalikan oleh rasa takut dikritik. Kadang seseorang kita puji atas pencapaiannya, tapi bahwa pencapaian kita sendiri mandek tidak sering kita sadari — bukan karena tidak mampu, hanya karena rasa malu lebih sibuk dihindari daripada keberhasilan dikejar.
Saya harus jujur: saat buku ini dibaca, saya sempat ragu juga. Apakah hidup benar-benar bisa diubah oleh perubahan cara berpikir? Apakah rasa percaya diri bukan sekadar ilusi yang dibuat untuk bertahan? Keraguan nyata itu ada. Namun kenyataan sederhana yang sulit disangkal juga hadir: usaha cenderung dilakukan oleh orang yang percaya diri. Peluang berkembang dimiliki oleh orang yang mencoba. Dan hidup hanya berubah kalau mencoba bersedia dilakukan oleh kita.
Mungkin bukan pada teorinya rahasia buku ini berada. Tapi pada dorongan lembut agar diri berhenti ditahan.
Halaman terakhir ditutup, euforia berlebihan atau ambisi untuk langsung berubah total tidak muncul. Yang pelan justru muncul — semacam kesadaran bahwa mungkin selama ini diri kita sendiri yang paling sering berdiri di tengah jalan kita. Tanda semesta mungkin terlalu sering ditunggu oleh kita, padahal kita sedang ditunggu oleh semesta.
Kalau pesan buku ini harus dirangkum dalam satu kalimat paling jujur, rasanya seperti ini:
Untuk menjadi dirimu sendiri, berhenti meminta izin.
Dan ketika renungan itu benar-benar masuk, rasa hangat yang aneh muncul. Tidak sombong, tidak keras. Hanya… masuk akal.
Tentang mengalahkan orang lain bukanlah kepercayaan diri.
Tapi memberi diri kesempatan hidup lebih dekat dengan siapa kita sebenarnya adalah kepercayaan diri.
Kalau itu bukan bentuk kemenangan kecil dalam hidup, apa lagi?
Post a Comment for "Review Buku 'You Are a Badass' Karya Jen Sincero: Panduan Tepat Tingkatkan Kepercayaan Diri"